Harmonis Berkat

Keterbukaan Finansial

FREEPIK

Idealnya tiap pasangan suami istri menerapkan transparansi finansial.

Keterbukaan menjadi kunci untuk menghadapi tantangan dan persoalan dalam kehidupan berumah tangga. Tidak hanya keterbukaan perasaan dan pemikiran, keterbukaan finansial juga sangatlah penting karena tak sedikit pernikahan yang berujung kandas karena masalah ini. Merujuk data Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung, sebanyak 67.891 atau 24 persen pasangan suami istri bercerai karena masalah keuangan.

 

Masalah keuangan juga yang menjadi bahan diskusi antara Windasari dan sang suami sebelum pernikahan hingga saat ini setelah memiliki dua buah hati. ‘’Saya dan suami sepakat untuk memisahkan keuangan masing-masing dan membagi apa saja yang menjadi tanggungan masing-masing untuk kebutuhan rumah tangga,’’ ujar perempuan yang bekerja sebagai karyawan BUMN ini saat dihubungi pekan lalu.

 

Winda mengaku masalah finansial perlu dibahas secara detail karena menyangkut kepentingan bersama untuk membangun rumah tangga. ‘’Jika sudah terbuka masalah finansial, tentu akan meminimalkan terjadi pertengkaran,’’ kata dia.

 

Yayu Aprilia dan Alam Permana juga termasuk pasangan suami istri yang sudah mulai menerapkan prinsip keterbukaan finansial sejak masih berpacaran. Keduanya sama-sama bekerja sebagai karyawan  perusahaan di Jakarta. Dua tahun sebelum akhirnya menikah, keduanya mulai memutuskan untuk menabung bersama.

 

“Sebenarnya memang gambling ya, tapi kita mutusin untuk bikin tabungan bersama. Awalnya kita sepakat untuk menabung saja dulu, kalau pun semisal enggak berjodoh uang itu bisa dibagi dua. Tapi alhamdulilah-nya kami bisa bersama sampai menikah,” kata Yayu.

thirdman/pexels

Sebelum menikah, keduanya juga sama-sama terbuka dengan keadaan ekonomi masing-masing. Misalnya, Yayu sendiri termasuk sandwich generation lantaran ia memiliki tanggung jawab untuk membantu keuangan orang tua dan adik-adiknya. “Kalau Alam enggak, kebetulan dia bukan anak pertama seperti saya. Untuk kondisi saya yang seperti itu, Alam memang tidak masalah, mengerti,” kata Yayu.

 

Menurut Alam, keterbukaan finansial yang dijalin antara dia dan Yayu tidak berjalan mulus begitu saja. Karena untuk menanamkan rasa percaya antara keduanya sangatlah sulit. “Nggak mudah, karena ada perasaan takut dikekang, takut serbadiatur oleh pasangan, takut enggak bebas beli ini dan itu lagi,” kata Alam.

 

Namun seiring berjalannya waktu dan akhirnya menikah, keduanya bisa saling transparan dan jujur dengan masalah keuangan masing-masing. Dengan begitu, rasa khawatir itu berubah menjadi rasa aman karena pada akhirnya pasangan bisa menjadi partner terbaik untuk mengatasi masalah finansial.

 

“Jadi kalau misal aku ada masalah, perlu uang untuk adik semesteran kuliah atau ibu sakit dan sebagainya, sementara kalau pakai gaji sendiri nggak cukup, aku cerita ke Alam, dan kita berdua cari solusinya. Ini salah satu contoh transparansi di antara kami,” jelas dia.

 

Perencana keuangan sekaligus pendiri Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini Sutikno mengatakan bahwa setiap pasangan suami istri idealnya harus menerapkan keterbukaan dan transparansi finansial. Itu termasuk transparan dalam hal pendapatan, pengeluaran, investasi, hingga utang.

Jika sudah saling terbuka itu akan mengarahkan pada kepercayaan dan keadilan dalam rumah tangga.

“Baik suami maupun istri harus memiliki niat atau motivasi yang sama untuk bisa saling terbuka, transparan. Jika sudah saling terbuka itu akan mengarahkan pada kepercayaan dan keadilan dalam rumah tangga,” kata Mike saat dihubungi Republika.

 

Adapun pada praktiknya, setiap pasangan memiliki cara berbeda-beda dalam menerapkan keterbukaan finansial. Misalnya ada pasangan yang lebih nyaman mencatat arus kas rumah tangga (pendapatan-pengeluaran) untuk kemudian dievaluasi bersama, namun ada juga yang tidak menggunakan cara tersebut.

 

“Dan komunikasi finansial itu tidak harus setiap saat. Misal mau beli sayur laporan, beli kebutuhan apa laporan ke suami, enggak berlebihan seperti itu. Ada waktu tertentu, emosinya mendukung apa enggak. Tempatnya juga jangan di depan umum, harus di tempat privat,” kata Mike.

 

Meski cara komunikasinya berbeda, Mike menyarankan setiap pasangan untuk menggunakan panduan atau indikator rasio keuangan dalam mengelola finansial. Indikator ini bertujuan untuk menavigasi aktivitas keuangan baik suami ataupun istri agar tetap dalam koridor keuangan yang sehat.

 

Misalnya kondisi finansial keluarga dianggap sehat jika cicilan atau utang terbayarkan, bisa menabung, berinvestasi, dana pendidikan anak terakumulasi, asuransi terbayarkan, hingga dana pensiun dijalankan. “Kalau misalkan sampai nggak bisa nabung, nggak bisa bayar utang atau cicilan itu sudah kelewatan. Apalagi kalau cicilan lebih dari 30 persen dari pendapatan, harus segera disetop,” tegas Mike.

FREEPIK

Perencana keuangan sekaligus Founder Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini Sutikno menilai beberapa kalangan telah menerapkan keterbukaan finansial bahkan sebelum menikah. Caranya, mereka membuat kesepakatan perjanjian pranikah. Perjanjian ini biasanya dibuat untuk menghindari terjadinya kekacauan masalah keuangan jika sesuatu terjadi pada perkawinan entah itu berpisah karena cerai maupun meninggal dunia.

 

Beberapa hal yang biasanya diatur dalam perjanjian pranikah adalah harta bawaan baik harta yang diperoleh sendiri oleh masing-masing pasangan, warisan, hibah dan harta-harta lainnya. Bisa pula berupa utang bawaan baik yang dibawa oleh calon suami atau istri yang akan menjadi tanggungan masing-masing untuk menyelesaikannya, serta hal-hal lain.

ernesto alvarez/unsplash

“Bagi orang yang asetnya banyak, tersebar di mana-mana, perjanjian pranikah ini jadi opsi terbaik. Mengapa? Karena kalau nanti cerai atau salah satu meninggal, persoalan harta gono-gini dan utang akan lebih mudah di-tracking. Sementara kalau tidak ada perjanjian pranikah otomatis diatur undang-undang pernikahan, dan hal ini biasanya malah akan merepotkan serta merugikan salah satu pihak,” jelas Mike.

top

Buat Perjanjian Pranikah